Luxury Hotels

Nikmati kemegahan hotel berbintang di Pulau Dewata

Pura Ulun Danu Bedugul

Suasana magis dari sebuah pura dibangun di atas Danau Beratan

Pura Taman Ayun

Sebuah pura agung dari Kerajaan Mengwi dengan arsitektur Bali yang unik dan mempesona.

Barong and Keris Dance

Pertunjukan budaya Bali yang eksotis dan membias terhadap kehidupan orang Bali.

Petualangan Alam

Dapatkan berbagai macam jenis petualangan di Pulau Dewata

Romantic Sunset

Bali menawarkan pemandangan sunset yang cantik dengan nuansa religius.

Senin, 30 Juni 2014

Air Sanih Pesona Wisata Bali Utara



Air Sanih atau Yeh Sanih adalah tempat wisata yang terletak sekitar 17 km dari Singaraja, Bali. Tempat ini merupakan tempat permandian dengan sumber air. Menurut legenda tempat ini merupakan tempat permandian bagi pasangan muda. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, sumber air ini mempunyai asal usul dari Danau Batur yang letaknya ratusan kilometer dari tempat ini. Air dari sumber ini sering digunakan dalam upacara agama Hindu. Di tempat ini juga dapat ditemui pura yang diujukkan kepada dewa Wisnu. 

Berdasarkan babad "Besi Mejajar", "Air Sanih"
yang juga disebut "Yeh Sanih"(:bahasa bali, berasal dari kata "ersania" yang artinya "kelod kangin" (=Timur laut). Pada masa kerajaan Bulian, "ersania" disebutkan merupakan sebuah lokasi taman dengan kolam/petirtaan, dan menugaskan 20 orang untuk menjaga tempat tersebut.Konon ke-20 orang tersebutlah yang sampai sekarang disebut sebagai "krama desa linggih" atau "parlemen" nya dalam pemerintahan "Desa Adat Pakraman Yeh Sanih", yang sekarang sering juga disebut sebagai "Desa Enembelas/Krama Desa Linggih" dikarenakan mereka tersebut sekarang hanya masih tinggal berjumlah 16 orang sebagai pemilik tanah "tegakan desa" (=sesuai yang dimuat dalam awig-awig/peraturan desa adat pakraman Yeh sanih).


Gambar Selengkapnya:




Tanjung Benoa Pusat Wisata Air di Bali


Tanjung Benoa terletak di ujung selatan pulau Bali, terletak di Kecamatan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung Bali. Tanjung Benoa ini adalah nama pantai yang berujung sempit. Jarak tempuh bila hendak ke pantai ini kira-kira 12 km dari Bandara Ngurah Rai, lebih kurang 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Pantai Tanjung Benoa adalah salah-satu pantai yang cukup terkenal di Pulau Bali, dengan keindahan pantai dan wisata airnya yang beraneka ragam telah membuat pantai Tanjung Benoa dikenal sebagai pusat wisata air (watersports) dan menjadi salah salah objek tujuan wisata. Berbagai kegiatan dapat dilakukan di pantai ini seperti bersantai bersama teman atau keluarga, berjemur, berjalan-jalan sepanjang pantai, berenang dan lain-lainnya

Pantai Tanjung Benoa sangat tenang airnya,
berbeda dengan di Kuta, Sanur atau Uluwatu yang berombak besar sehingga menjadikan kawasan Pantai Tanjung Benoa ini sebagai satu-satunya tempat untuk permainan-permainan olah raga air yang menyenangkan. Kegiatan olah raga air ini biasanya dimulai di pagi hari sekitar jam 8 sampai dengan jam 12-an, setelah jam 12 siang itu air akan surut dan boatnya tidak bisa lagi dipergunakan untuk permainan-permainan atau sebaliknya pagi air laut surut dan siang hari air pasang maka aktifitas dilakukan siang sampai sore hari.



Gambar Selengkapnya:









Museum Subak Sejarah Perkembangan Pertanian di Bali


Museum Subak berlokasi di desa Sanggulan, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, tepatnya 20 Km dari arah barat kota Denpasar. Dipilihnya desa ini sebagai tempat museum subak adalah atas pertimbangan bahwa Subak Rijasa di kabupaten Tabanan pada tahun 1979 pernah meraih juara nasional dalam program intensifikasi yang mengangkat nama Bali di tingkat Nasional. Kedua, Kabupaten Tabanan adalah kabupaten yang memiliki lahan sawah yang paling luas di Bali, sehingga dijuluki Lumbung Beras pulau Bali. Pertimbangan ketiga, kabupaten Tabanan memiliki jumlah subak paling banyak dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Maksud lainnya adalah mengembangkan wilayah tersebut sebagai kawasan kunjungan yang dapat dipadukan dengan objek wisata Tanah Lot. Luas lahan seluruhnya setelah ditambah 6 hektar lagi adalah 8 hektar yang dipergunakan oleh tiga lembaga yang mempunyai kaitan erat satu sama lain. Lembaga tersebut adalah Sasana Budaya, Museum Subak, dan Pusat Latihan Pengolahan Air atau Water Management Training Center. 

Ketiga lembaga tersebut di atas bergabung
pada satu areal yang luasnya 8 hektar, yang diberi nama “Mandala Mathika Subak”. Sistem ini sangat terkenal di mancanegara karena memiliki sistem pengairan serupa seperti Fai di Thailand dan Zangera di Filipina dengan gaung dan spesifikasinya tidak seperti subak yang ada di Bali. Dengan semakin berkembangnya teknologi sekarang, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan manusia dan sistem subak sendiri. Bila ini terjadi pada suatu saat, subak yang merupakan aset budaya yang telah mengidentifikasikan masyarakat Bali akan sulit dilacak. Kekhawatiran para pencipta budaya ini pertama kali dicetuskan oleh I Gusti Ketut Kaler yang pada awalnya mengusulkan untuk melestarikan sebuah subak guna dijadikan Cagar Budaya. Usulan ini terus berkembang menjadi Museum Subak. Berbagai batasan tentang subak telah dikemukakan, tetapi sebagai pegangan kita pilih salah satu yang paling lengkap, di antaranya batasan sebagai hasil kajian yang dilakukan di lapangan oleh Prof. Dr. Nyoman Sutawan dan kawan-kawan tahun 1966, sebagai berikut: Subak adalah organisasi petani lahan basah yang mendapatkan air irigasi dari suatu sumber bersama, memiliki satu atau lebih Pura Dugul (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan), serta mempunyai kebebasan di dalam mengatur rumah tangganya sendiri maupun di dalam berhubungan dengan pihak luar. Museum Subak terdiri dari bangunan tertutup dan bangunan terbuka. Bangunan tertutup terdiri dari Gedung Pameran, yang memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan pekerjaan petani, Gedung Audio-visual yang menceritakan kegiatan subak dalam kaitannya dengan pengolahan air, Gedung Perpustakaan dan Kantor.

Sedangkan bangunan terbuka merupakan visualisasi peragaan subak dalam bentuk mini terdiri dari; sebuah kolam berfungsi untuk penampungan air,
telabah berfungsi untuk mengalirkan air dari kolam ke saluran primer, telabah Gede, ke saluran sekunder tersier (telabah Pemaron), saluran kuarter (telabah Penyacah), ke tembuku dan akhirnya ke petakan sawah. Dan juga dibangun sebuah rumah petani tradisional yang terbagi menjadi 3 yaitu: utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Benda-benda yang dipakai oleh petani yang dipamerkan di Gedung pameran meliputi; kapak, gergaji, linggis, pacung tunggal, panyong, penampad, patuk, geganjing, tenggala atau bajak, pemelasah, anggapan atau ani, arit, ketungan, lesung, luu, sidi adalah alat untuk mengolah padi menjadi beras, pengedangan, payuk, kuskusan, paso, jeding, pengorengan, cagag, dan sok nasi. Disamping itu petani juga melakukan upacara, diantaranya: Upacara Ngawiwit; upacara yang dilaksanakan pada waktu petani mulai menabur benih, Upacara Mamula merupakan upacara yang dilaksanakan pada saat menanam, Upacara Neduh; upacara yang dilakukan pada waktu padi berumur 1 bulan dengan maksud agar tidak diserang hama, Upacara Biukukung adalah upacara yang dilakukan pada saat padi sedang bunting, Nyangket; upacara dilakukan pada saat panen, Mantenin; upacara yang dilakukan pada saat padi sudah dilumbung, Upacara Mapag Toya; upacara yang dilakukan di dekat bendungan menjelang pengolahan tanah, Nayeb adalah upacara yang dilakukan dengan maksud agar padi tidak diserang hama penyakit, dan Upacara Ngusaba merupakan upacara yang dilakukan menjelang panen.

Gambar Selengkapnya:








Kebun Raya Eka Karya Bedugul Bali


Kebun Raya Eka Karya Bali adalah sebuah kebun botani besar yang terletak di wilayah Kabupaten Tabanan, Bali, Indonesia. Kebun ini merupakan kebun raya pertama yang didirikan oleh putra bangsa Indonesia. Pengelolaannya dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan secara struktur organisasi berada di bawah pembinaan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Kebun ini didirikan pada 15 Juli 1959. Pada awalnya Kebun Raya Eka Karya Bali hanya diperuntukkan bagi tetumbuhan runjung. Seiring dengan perkembangan dan perubahan status serta luas kawasannya, kebun yang berada pada ketinggian 1.250–1.450 m dpl ini kini menjadi kawasan konservasi ex-situ bagi tumbuhan pegunungan tropika Kawasan Timur Indonesia. Luas kawasan Kebun Raya semula hanya 50 ha, tetapi saat ini luas kebun raya menjadi 157,5 ha.

Kebun Raya Eka Karya Bali memiliki beberapa
koleksi tanaman yang dikelompokkan berdasarkan kekerabatannya. Selain dikoleksi, jenis–jenis tanaman tersebut juga diupayakan penelitian dan pengembangannya. Beberapa koleksi yang ada di antaranya mencakup anggrek, kaktus, paku/pakis, bambu,Koleksi Lumut,Begonia,Bambu,Tanaman Upacara Adat,Tanaman Obat,Bambu,Tanaman Air dan palma. Kebun Raya Eka Karya Bali terletak di tengah-tengah Pulau Bali, yakni berada di kaldera bekas gunung berapi. Untuk menuju Kebun Raya Bali dapat ditempuh melalui perjalanan darat selama satu setengah jam dari Denpasar, atau sekitar 80 km ke arah utara Denpasar menuju Singaraja. Jika dari Singaraja maka jarak yang ditempuh sekitar 40 km ke arah selatan menuju Denpasar atau menempuh waktu kira-kira setengah jam perjalanan darat.

Gambar Selengkapnya:












Pura Uluwatu Wisata Ujung Selatan Bali


Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter
dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.
Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar, bahkan even internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

Gambar Selengkapnya:










Pantai Padang Padang Pesona Wisata Bali Selatan


Pantai Padang Padang Bali, Pantai berpasir putih nan eksotis yang tersembunyi diantara tebing - Jika biasanya Bali terkenal akan pantai berpasir putih seperti Kuta, Nusa dua, Sanur, Jimbaran dan Dream land. akan tetapi banyak dari kita yang masih asing jika mendengar nama pantai Padang Padang atau bisa disebut juga pantai Suluban, Letaknya yang tersembunyi mungkin salah satu penyebab pantai ini kurang dikenal banyak orang. Jika dari pusat kota denpasar menuju pantai ini jaraknya sekitar 35 km/ 45 menit dengan kendaraan bermotor kearah selatan menuju Nusa dua kemudian bergerak ke daerah Pecatu. dan ternyata pantai ini masih "tetangga jauh" dari pantai Dream land. saat air laut surut kita dengan mudah bisa menuju pantai ini dengan menyusuri pantai dari Dream leand mungkin kira-kira beberapa km saja jaraknya. namun jika air sedang pasang jalan yang bisa dilewati adalah dari Pura Uluwatu

Dan ketika tiba pertama kali yang kita temui
adalah sebuah jembatan dengan tinggi hampir 30 meter. dari sinilah pemandangan indah pertama yang bisa kita nikmati karena dari atas jembatan kita bisa mememandang ke bawah dan langsung melihat pantai Padang padang.  Untuk menuju kebawah satu satunya jalan yang bisa dilewati manusia adalah dengan melintasi sebuah lorong sempit yang cukup dilewati untuk satu orang saja. tidak ada jalan lain lagi untuk menuju pantai ini. keluar masuk hanya menggunakan lorong sempit itu. jadi jika mau keluar kita harus menunggu yang dibawah untuk naik dan begitu juga sebaliknya. karena pantai indah nan eksotis serta berpasir putih ini dikelilingi oleh tebing yang curam. 



Gambar Selengkapnya: