Menu

Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

Perang Tipat Bantal Tradisi Adat Penuh Makna


Desa Kapal adalah salah satu desa tradisional di Bali yang kaya akan keunikan adat dan  budaya. Desa Kapal termasuk dalam wilayah Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali ini memiliki berbagai tradisi unik dan menarik yang masih berlangsung sampai sekarang.  Salah satunya adalah pelaksanaan tradisi Aci Rah Penganggon atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Perang Tipat – Bantal. Tradisi Perang Tipat – Bantal  ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat di desa Kapal, di mana tradisi ini dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diciptakan – Nya serta berlimpahnya hasil panen di desa Kapal ini. Tradisi Aci Rah Penganggon atau Perang Tipat Bantal ini dilaksanakan setiap Bulan Keempat dalam penanggalan Bali ( Sasih Kapat ) sekitar bulan September – bulan Oktober. 

Pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk Perang Tipat – Bantal. Tipat atau ketupat adalah olahan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segi empat, sedangkan Bantal adalah olahan makanan yang terbuat dari olahan beras ketan yang juga dibungkus dengan anyaman janur namun berbentuk bulat lonjong. Dua hal ini adalah suatu simbolisasi dari keberadaan energi maskulin dan feminism yang ada di semesta ini, yang mana dalam konsep Hindu disebut sebagai Purusha 

Predana. Pertemuan Purusha dan Predana ini dipercaya memberikan kehidupan pada semua makhluk di dunia ini, segala yang tumbuh dan berkembang baik dari tanah ( tumbuh), bertelur maupun
dilahirkan berawal dari pertemuan kedua hal ini. Ritual yang berlangsung di Pura Desa Kapal ini diawali dengan upacara persembahyangan bersama oleh seluruh Desa Kapal. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Tipat – Bantal ini.
Tidak lama kemudian beberapa pria melepas baju dan bertelanjang dada. Mereka terbagi menjadi dua kelompok dan berdiri saling berhadapan. Setelah aba – aba dimulai, para pria yang bertelanjang dada itu mulai melemparkan tipat dan bantal itu ke kelompok yang ada di depan mereka. Suasana pun gempar ketika tipat dan bantal mulai berterbangan di udara. Lalu aksi lempar ketupat dan bantal ini dihentikan sementara. Warga mulai beranjak keluar Pura dan kini mereka bersiap di jalan raya yang berada di depan pura Desa Kapal lalu berdiri berkelompok, dan saling berhadapan sekitar 15 meter.

Suasana kembali riuh ketika ritual itu dimulai lagi. Warga melempar tipat dan bantal itu membabi buta sambil berteriak dan tertawa. Perang Tipat – Bantal ini menjadi lebih seru ketika para penonton yang berdiri di trotoar ikut mengambil dan melempar tipat itu. Tak jarang ada ketupat nyasar ke arah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen tersebut. Beberapa dari warga yang menonton berteriak dan berlindung. Maklum, jika terkena lemparan tipat dan bantal ini, badan terasa sakit seperti terkena benda keras. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tradisi Perang Tipat – Bantal ini bermakna bahwa pangan yang kita miliki adalah senjata utama untuk mempertahankan diri dari hidup dan berkehidupan. 


GAMBAR SELELNGKAPNYA






 

Tradisi Adat Bali Mekotek


Tradisi Adat Makotek / Ngrebeg adalah warisan budaya sejak jaman kejayaan kerajaan mengwi yg mempunyai wilayah sampai di Jawa Timur, ngrebeg dilaksanakan tiap 6 bulan sekali setiap saniscara wuku kuningan atau setiap sabtu bertepatan di Hari Raya Kuningan di desa Munggu Kecamatan Mengwi Badung Bali.

Makotek, Merupakan perayaan untuk memperingati kemenangan Kerajaan Mengwi ketika perang melawan Kerajaan Blambangan dari Banyuwangi, Jawa Timur.
Tradisi Makotek sendiri akhirnya sampai sekarang sering diperingati, dengan maksud memohon belas kasihan Tuhan supaya menghindarkan dari wabah penyakit atau segala bahaya yang mengancam kampung Munggu sendiri.
Biasanya sebelum tradisi Makotek dimulai maka para peserta akan lebih dulu melakukan persembahyangan bersama di sebuah pura desa. Kemudian dipercikkan air.

Para peserta Makotek yang ikutpun ada syaratnya yakni tidak diperkenankan jika keluarganya ada yang sedang meninggal atau istrinya melahirkan. Disebut makotek lantaran berawal dari suara kayu-kayu yang saling bertabrakan ketika kayu-kayu tersebut disatukan menjadi bentuk gunung yang menyudut keatas. "Makotek karena timbul dari suara kayu-kayu yang digabung jadi satu, bunyinya tek.. tek.. tek..

Sebenarnya dulu tradisi ini bernama grebek yang artinya saling dorong," jelasnya. Dalam tradisinya, perang makotek ini dilakukan oleh sekitar ratusan kaum laki-laki yang berasal dari Desa Munggu. Mereka rata-rata berumur 13 hingga 60 tahun. Sebelum memulai atraksi ini peserta terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama di Pura desa, dengan dipercikkan air suci. "Atraksi ini ada pantangannya.
Peserta yang ikut tidak boleh ada yang keluarganya sedang meninggal, dan istrinya melahirkan," ujarnya.
Dalam permainannya, ratusan kayu-kayu tersebut masing-masing dipegang oleh para laki-laki dengan cara menggabungkan kayu sepanjang 3,5 meter dari pohon pulet hingga membentuk kerucut. Kemudian salah satu dari pemuda yang merasa tertantang pun harus menaiki kayu tersebut hingga berada di ujung dengan posisi berdiri. Di sisi lain dengan cara yang sama, ratusan orang dengan kayu-kayu tersebut juga disatukan hingga berbentuk kerucut, dan dinaiki oleh salah seorang pemuda. Kedua kelompok dengan masing-masing kayu tersebut kemudian dipertemukan untuk berperang layaknya panglima perang.
Meski cukup berbahaya karena banyak pula yang terjatuh dari ujung kayu, namun tradisi ini tetap dianggap menyenangkan dengan banyaknya orang yang berkali-kali mencoba untuk naik.
Tradisi yang selalu dilakukan pada sore hari tersebut sempat menutup jalan selama beberapa jam ketika tradisi berjalan.


GAMBAR SELENGKAPNYA






*TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG*

Saturday, August 16, 2014

Festival Layang-Layang

"dalam teriknya sinar matahari, variasi bentuk dan warna layang-layang ikut menghiasi birunya langit"



Layang-layang sudah menjadi budaya hidup masyarakat Bali, untuk melestarikan tradisi, penyaluran hobi dan sebagai hiburan masyarakat maka diadakannya festival layang-layang. Festival tersebut sudah menjadi tradisi yang rutin diadakan setiap tahun saat musim angin kencang yaitu sekitar bulan Juli sampai Agustus. Festival yang sudah ada sejak tahun 1979 ini biasanya diselenggarakan di Pantai Padang Galak, Sanur.

Layang-layang sudah digemari semua kalangan tidak memandang usia dan jenis kelamin, anak-anak, dewasa, laki-laki dan perempuan berbaur menyaksikan eloknya layang-layang bergoyang di langit. Umumnya, jenis layang-layang yang dilombakan ada 4 jenis dengan karakteristik tersendiri yaitu bebean (ikan), janggan (burung), pecukan (berbentuk seperti daun) dan layang-layang kreasi baru.



Untuk mengudarakan layang-layang tersebut tidaklah mudah, perlu kerjasama tim yang baik. Satu layang-layang biasanya diudarakan oleh 10 orang atau bahkan lebih dan anggota lainnya memainkan gambelan (alat musik khas Bali). Musik gambelan ini berfungsi memeriahkan suasana dan sebagai penyemangat untuk yang menarik layangannya. Penonton akan dibuat berdecak kagum oleh banyaknya layang-layang yang mengudara dengan berkelak-kelok seperti sedang bergoyang di udara.





         Gambar selengkapnya :
Layangan Bebean
Layangan Pecukan










Layangan Kreasi Baru
Layangan Janggan