Senin, 22 Desember 2014

Perang Tipat Bantal Tradisi Adat Penuh Makna


Desa Kapal adalah salah satu desa tradisional di Bali yang kaya akan keunikan adat dan  budaya. Desa Kapal termasuk dalam wilayah Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali ini memiliki berbagai tradisi unik dan menarik yang masih berlangsung sampai sekarang.  Salah satunya adalah pelaksanaan tradisi Aci Rah Penganggon atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Perang Tipat – Bantal. Tradisi Perang Tipat – Bantal  ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat di desa Kapal, di mana tradisi ini dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diciptakan – Nya serta berlimpahnya hasil panen di desa Kapal ini. Tradisi Aci Rah Penganggon atau Perang Tipat Bantal ini dilaksanakan setiap Bulan Keempat dalam penanggalan Bali ( Sasih Kapat ) sekitar bulan September – bulan Oktober. 

Pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk Perang Tipat – Bantal. Tipat atau ketupat adalah olahan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda berbentuk segi empat, sedangkan Bantal adalah olahan makanan yang terbuat dari olahan beras ketan yang juga dibungkus dengan anyaman janur namun berbentuk bulat lonjong. Dua hal ini adalah suatu simbolisasi dari keberadaan energi maskulin dan feminism yang ada di semesta ini, yang mana dalam konsep Hindu disebut sebagai Purusha 

Predana. Pertemuan Purusha dan Predana ini dipercaya memberikan kehidupan pada semua makhluk di dunia ini, segala yang tumbuh dan berkembang baik dari tanah ( tumbuh), bertelur maupun
dilahirkan berawal dari pertemuan kedua hal ini. Ritual yang berlangsung di Pura Desa Kapal ini diawali dengan upacara persembahyangan bersama oleh seluruh Desa Kapal. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Tipat – Bantal ini.
Tidak lama kemudian beberapa pria melepas baju dan bertelanjang dada. Mereka terbagi menjadi dua kelompok dan berdiri saling berhadapan. Setelah aba – aba dimulai, para pria yang bertelanjang dada itu mulai melemparkan tipat dan bantal itu ke kelompok yang ada di depan mereka. Suasana pun gempar ketika tipat dan bantal mulai berterbangan di udara. Lalu aksi lempar ketupat dan bantal ini dihentikan sementara. Warga mulai beranjak keluar Pura dan kini mereka bersiap di jalan raya yang berada di depan pura Desa Kapal lalu berdiri berkelompok, dan saling berhadapan sekitar 15 meter.

Suasana kembali riuh ketika ritual itu dimulai lagi. Warga melempar tipat dan bantal itu membabi buta sambil berteriak dan tertawa. Perang Tipat – Bantal ini menjadi lebih seru ketika para penonton yang berdiri di trotoar ikut mengambil dan melempar tipat itu. Tak jarang ada ketupat nyasar ke arah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen tersebut. Beberapa dari warga yang menonton berteriak dan berlindung. Maklum, jika terkena lemparan tipat dan bantal ini, badan terasa sakit seperti terkena benda keras. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tradisi Perang Tipat – Bantal ini bermakna bahwa pangan yang kita miliki adalah senjata utama untuk mempertahankan diri dari hidup dan berkehidupan. 


GAMBAR SELELNGKAPNYA






 

0 komentar:

Posting Komentar