Luxury Hotels

Nikmati kemegahan hotel berbintang di Pulau Dewata

Pura Ulun Danu Bedugul

Suasana magis dari sebuah pura dibangun di atas Danau Beratan

Pura Taman Ayun

Sebuah pura agung dari Kerajaan Mengwi dengan arsitektur Bali yang unik dan mempesona.

Barong and Keris Dance

Pertunjukan budaya Bali yang eksotis dan membias terhadap kehidupan orang Bali.

Petualangan Alam

Dapatkan berbagai macam jenis petualangan di Pulau Dewata

Romantic Sunset

Bali menawarkan pemandangan sunset yang cantik dengan nuansa religius.

Senin, 15 Juni 2015

Bali Pulina, Tempat Menikmati Kopi Luwak Bal

Selain untuk mengembangkan pariwisata di daerah Tegalalang, Agro Wisata Bali Pulina ini dibuat untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal sekitar, dan membantu para petani kopi lokal untuk menyalurkan kopinya. Begitulah yang menjadi tujuan pemilik Bali Pulina Agro Tourism, I Nyoman Diana, yang berada di Banjar Pujung Kelod, Desa Sebatu, Kec. Tegalalang. Berdiri sejak 19 Januari 2011, Bali Pulina ingin mengenalkan kopi luwak, yang merupakan produk utama di sini, bagi masyarakat lokal sendiri, serta para turis, baik domestik maupun mancanegara. “Di sini mereka, bisa melihat proses pembuatan kopi, terutama kopi luwak, yang diolah dengan cara tradisional,” ujar Manajer dari Bali Pulina Agro Tourism, Ni Wayan Suniati.


Berbagai tanaman kopi dan juga coklat juga ditanam langsung di sini. Para pengunjung dapat berkeliling area Bali Pulina, melihat kebun-kebun yang selain ditanami kopi dan coklat, juga berbagai herbal dan buah-buahan. Tak hanya itu, bisa mengetahui bagaimana cara perawatannya, dan bisa melihat langsung luwak-luwak sebagai penghasil kopi luwak, yang juga turut dikembangbiakkan oleh Bali Pulina. Selain memang tampil dengan bangunan tradisional, berbagai peralatan pembuatan kopi dan juga peralatan sawah yang ada merupakan barang-barang tradisional khas Bali tempo dulu. Tujuannya, agar anak-anak muda yang datang teredukasi dan mau ikut melestarikan kembali budaya tradisional Bali. Karena dari awal pengolahan hingga menjadi kopi yang siap dinikmati oleh orang-orang dilakukan secara tradisional, Bali Pulina ingin memberi penjelasan kepada masyarakat mengapa harga kopi luwak yang dibanderol selama ini tidak murah. Selain dengan cara yang masih manual dan tradisonal, kopi luwak pun tak dapat dilakukan secara mass production.


Para pengunjung dapat berwisata di Bali Pulina ini mulai dari pukul 07.00-19.00 Wita. Selain pada saat Nyepi, tempat ini beroperasi setiap harinya. Ke depannya, Bali Pulina berencana untuk mengadakan kegiatan bercocok tanam di sawah sebagai bagian dari aktivitas para pengunjung di sini. Harga tiket masuk untuk saat ini adalah Rp 100.000 untuk para tamu lokal. Dengan biaya tersebut, para pengunjung akan mendapat pengalaman wisata tentang kopi luwak itu sendiri, dan yang tak kalah menarik adalah pemandangan yang ditawarkan. Para pengunjung dapat berkeliling area Bali Pulina yang memiliki luas sekitar 1,5 hektare ini. Pemandangan sawah yang berundak-undak jadi satu di antara yang ditonjolkan oleh Bali Pulina. Bahkan, saat ini terdapat anjungan dari dek kayu yang berbentuk daun kopi. Area yang telah ada selama dua bulan ini, kemudian jadi spot favorit para pengunjung. Baik untuk menikmati suasana, hingga tak lupa mengabadikannya dalam bentuk foto. Biaya tersebut juga sudah termasuk kopi dan juga snack yang dapat dinikmati para pengunjung. Sebelumnya para pengunjung juga akan disuguhkan delapan jenis minuman secara gratis. Yang terdiri dari lemon tea, ginger tea, ginger coffee, ginseng coffee, chocolate coffee, pure cocoa, vanilla coffee, dan Bali coffee.

Desa Celuk

Masing-masing desa di Bali memiliki keunikannya tersendiri. Termasuk dengan Desa Celuk yang dikenal sebagai desa yang menawarkan wisata kerajinan emas dan perak. Sebagai desa wisata, Celuk tiap harinya dikunjungi oleh para wisatawan yang penasaran dengan pembuatan emas dan perak oleh para pengrajin dan seniman. Mutu kerajinan emas dan perak Desa Celuk bermutu tinggi.

Tak hanya diperbolehkan melihat, para wisatawan yang datang pun berkesempatan untuk memiliki aneka kerajinan yang terbuat dari emas-perak tersebut dengan membelinya langsung dari hasil karya para seniman. Mayoritas penduduk Desa Celuk bermata pencaharian sebagai pengrajin emas dan perak.



Mereka rata-rata terampil dalam mengembangkan kreasi desain dan variasi kerajinan emas perak sehingga tak heran kalau produksinya mampu menembus pasar nasional maupun internasional. Berbagai macam perhiasan yang telah dihasilkan bisa langsung dinikmati dan dimiliki oleh pengunjung. Beragam jenis kreasi dan variasi perhiasan, baik sebagai cendramata maupun komoditi ekspor diproduksi di desa ini seperti cincin, gelang, kalung, anting-anting, giwang, bross dan berbagai jenis perhiasan lainnya.

Kualitas kerajinan yang telah dihasilkan masyarakat Celuk tak mesti diragukan lagi karena sudah teruji selama puluhan tahun. Demikian juga dengan kuantitas, jika Anda membutuhkan kerajinan emas dan perak dalam jumlah yang banyak, para pengrajin sudah terlatih membuat kerajinan tersebut dalam jumlah massal.



Lokasi Desa Celuk sendiri bisa dikatakan lumayan mudah untuk dijangkau yakni terletak di Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Lokasinya tersebut sangat strategis karena terletak di jalur wisata Batubulan—Sukawati—Ubud—Kintamani, dimana juga berada dalam jaringan pengrajin seperti Desa Batubulan, Desa Batuan, dan Desa Mas.

Rabu, 24 Desember 2014

Jatiluwih Desa Wisata Penuh Pesona

Jatiluwih adalah sebuah desa pegunungan yang terletak di lembah kaki Gunung Batukaru dengan ketinggian 850 meter di atas permukaan laut. Desa Jatiluwih berada di daerah kecamatan Penebel, kabupaten Tabanan berjarak sekitar 20 km di sebelah utara kota Tabanan atau berjarak sekitar 38 km dari kota Denpasar. 

Untuk mencapai kawasan ini harus melalui jalan yang cukup sempit dan menanjak. Desa Jatiluwih menjadi
daerah kawasan wisata yang dimiliki kabupaten Tabanan karena memiliki tanah perkebunan dan persawahan yang berteras-teras sehingga akan terlihat pemandangan sawah yang indah untuk dipandang terutama pada sore hari menjelang matahari terbenam. 




Menurut sejarah, nama desa Jatiluwih sebelumnya bernama desa Girikusuma. Pergantian nama tersebut terjadi pada masa pemerintahan raja Dalem Waturenggong (1460-1552). Pada masa itu di desa Girikusuma ada seorang tokoh agama yang bernama Ida Bagus Angker yang melakukan meditasi dan madiksa (menjadi pendeta). Setelah beliau menjadi pendeta, desa Girikusuma lalu berganti nama menjadi desa Jatiluwih. Pada tempat di mana beliau bermeditasi, kemudian dibangun sebuah tempat pemujaan yang disebut Pura Gunung Sari. Pura tersebut didirikan oleh Ida Bagus Angker bersama dengan seorang abiseka Ida Bhagawan Rsi Canggu pada sekitar abad ke-16. Pada bagian halaman dalam pura Gunung Sari terdapat bangunan suci padmasana yang berfungsi untuk memuja Tuhan dalam manifestasi terhadap Dewa Siwa pada aspek Mahadewa yang ber-sthana di Gunung Batukaru atau Penguasa Mandala Barat. Sehingga pemujaan tersebut dilakukan agar mendapatkan anugerah khusus yang diharapkan yaitu kesuburan, kemakmuran, dan keselamatan dalam bidang pertanian.

Di desa Jatiluwih kita akan melihat pemandangan sawah yang sangat indah dan masih alami. Udaranya yang sejuk dan segar menandakan bahwa desa ini jauh dari perkotaan sehingga kita merasa nyaman berada di desa ini. Sebagian besar penduduknya ialah seorang petani. Jatiluwih merupakan desa wisata yang sangat cocok untuk anda yang mencari ketenangan suasana desa.


GAMBAR SELENGKAPNYA:








Selasa, 23 Desember 2014

Taman Buaya & Reptil Indonesia Jaya

Taman Buaya dan Reptil Indonesia Jaya merupakan objek wisata yang terkenal di Bali. Tepatnya  terletak di jalan Raya Bedugul, Desa Werdhi Buwana, kecamatan Mengwi. Dibutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai Taman Reptil ini dengan mengemudi dari pusat kota Denpasar . Bila dari Bandara Ngurah Rai  bisa memakan waktu  sekitar dua jam perjalanan . Diawali dengan melewati daerah Kuta yang terkenal akan wisata baharinya, lalu  melewati Desa Kapal menuju ke Desa Werdhi Buwana. Akan tampak banyak pedagang yang menjual beraneka macam buah di sepanjang jalan Desa Kapal. Jika anda masih bingung untuk mencari tempat berlibur yang pas bersama keluarga, tidak ada salahnya jika Taman Buaya ini dimasukkan pada daftar tempat wisata liburan yang harus dikunjungi . Tidak jauh dari lokasi Taman Reptil ini terdapat objek wisata budaya Pura Taman Ayun yang sangat terkenal di Bali.


Memasuki gerbang Taman Reptil Indonesia Raya anda akan disambut dengan patung buaya dan ular kobra yang ukurannya cukup besar. Taman ini mencangkup luas sekitar 2 hektar, terdapat banyak pohon besar yang rindang sehingga pengunjung yang datang pada siang hari tidak merasakan panas yang menyengat. Di dalamnya terdapat penangkaran buaya dengan berbagai ukuran dari buaya yang masih bayi hingga yang dewasa. Buaya yang ada disini jumlahnya kurang lebih sekitar 50 ekor. Anda mungkin akan merasa ngeri melihat buaya yang sedang berkumpul dalam satu kandang. Tetapi anda tidak perlu takut, bila tidak mengganggu buaya disana cenderung pasif. Pada sore hari anda akan mendapat pengalaman berharga saat melihat sang pawang memberi makan para buaya. Dengan sekali, Haappp ! dan kemudian tidak ada lagi makanan yang tersisa. Memori keganasan buaya-buaya akan pengalaman yang tidak bisa anda lupakan. 

Tidak hanya buaya, ditaman ini juga terdapat spesies reptil yang lain yaitu 2 ekor biawak dan 1 ekor ular kobra yang masing-masing diletakkan pada sebuah akuarium kaca. Ukuran biawaknya tidak terlalu besar mungkin sekitar satu meter, begitu pula ukuran ular kobranya  mungkin sekitar dua meter tidak terlalu panjang untuk seekor kobra. Selain koleksi reptil, diujung belakang taman ini terdapat semacam tempat pertunjukan yang cukup besar dan didepannya terdapat kursi penonton yang memanjang. Biasanya ditaman ini mempertunjukkan Tari Trance Debus yaitu pertunjukan seorang penjinak binatang melawan seekor buaya. Jadwal pertunjukan ini tidak ditentukan, jadi untuk melihatnya anda bisa memesan terlebih dahulu. Jika anda  merasa lelah dan lapar, tidak jauh dari Taman ini terdapat hotel murah dan berbagai restaurant yang menghidangkan makanan khas Bali.

BEBERAPA GAMBAR



 

Desa Petang Keindahan Alam Tak Terlupakan



Desa Petang terletak di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Desa ini berada di ketinggian 800 meter dari atas permukaan laut. Kurang lebih 32 kilometer sebelah utara kota Denpasar dan kira-kira 70 menit perjalanan bila menggunakan kendaraan bermotor dari Bandara Ngurah Rai Bali.


Desa Petang merupakan salah satu desa yang dijadikan tujuan wisata di Bali. Desa ini menawarkan suasana pedesaan yang masih asri dengan kehidupan masyarakat Bali yang masih bernuansa alami. Dengan tanaman hortikulturanya yang meliputi  berbagai sayur mayur dan buah-buahan, sawah berundag-undag dengan aliran sungai Ayung yang berliku membuat desa ini pantas disebut desa wisata karena keindahan alamnya. Sungai Ayung sendiri merupakan salah satu sungai yang digunakan sebagai tempat olahraga arung jeram di Bali. Melakukan arung jeram di sungai Ayung sangatlah menantang, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dimulai dari pertemuan dua aliran sungai Campuhan dengan air terjun didekatnya membuat suasana start menjadi lebih penuh tantangan bagi wisatawan yang bermain arung jeram.


Di sepanjang sungai inipun terdapat beberapa air terjun, ngarai sungai yang sekitar 300 meter juga akan memberi keunikan tersendiri dimana ribuan kelelawar berterbangan mencari makan disekitarnya, burung-burung langka lainnya, begitu juga monyet abu-abu dan hitam, kadangkala muncul dari semak belukar. Mengikuti kegiatan arung jeram dari sini berarti menjelajahi jauh ke dalam keindahan alam pedesaan. Sebagian besar Penduduk Desa Petang ini bermata pencaharian sebagai petani, namun demikian ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang dan pegawai.

Bagi yang ingin menikmati keindahan, ketenangan dan kenyamanan alam pedesaan di Bali, maka Desa Petang ini sangat layak di kunjungi.

GAMBAR SELENGKAPNYA





 


TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG

Mengenal Sejarah Manusia di Museum Manusia Purba Gilimanuk

Museum Manusia Purba Gilimanuk ini bisa dikatakan unik dan berbeda dengan museum-museum lainnya yang ada di Bali dalam konteks benda-benda yang tersimpan didalamnya. Museum ini—sebagaimana namanya—menyimpan sejumlah benda-benda kepurbakalaan masa lampau berupa yang memiliki nilai historis sangat tinggi. Keberadaan museum ini sendiri berawal dari penemuan ratusan kerangka manusia purba dan juga bekal kuburnya yang menyertai penemuan tersebut yang diperkirakan berasal dari zaman pra-sejarah (akhir).

Berdasarkan hal tersebut kemudian pemerintahan Kabupaten Jembrana berinisiatif untuk menyelamatkan dan mengabadikan berbagai benda-benda penemuan tersebut supaya tidak lekas hilang atau bahkan malah jatuh ke tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.Untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut kemudian dibangunlah sebuah museum bernama Museum Manusia Purba yang pertama kali didirika pada tahun 1993 dan diresmikan oleh Gubernur Bali kala itu yakni Prof. Ida Bagus Oka. Dan dengan adanya museum tersebut harapannya ialah benda-benda purbaka yang sarat dengan nilai kesejarahan tersebut bisa terus terjaga dan terpelihara sampai kapanpun. 

Didalam Museum Manusia Purba sendiri terdapat ratusan koleksi yang diantaranya berupa 137 buah kerangka manusia dan juga 73 buah koleksi-koleksi yang lainnya berupa manik-manik, periuk kecil, gelang yang terbuat dari kayu dan kerang, kendi, tempayan, mangkuk yang terbuat dari tanah, mata kail, tajak dan juga sarkofagus. Berbagai macam koleksi benda-benda purbakala tersebut bisa dilihat atau bahkan didokumentasikan sebagai kenang-kenangan yang bisa dilihat di kemudian hari. Museum Manusia Purba sendiri terdiri dari tiga lantai yang memiliki fungsinya masing-masing. Lantai pertama di museum ini digunakan untuk menyimpan kerangka-kerangka manusia dan juga sarkofagus yang usianya sudah ratusan tahun. Setiap manusia purba yang ada disini biasanya dalam bentuk posisi tubuh yang menyerupai bayi didalam kandungan. Hal tersebut rupanya dikaitkan dengan adanya keyakinan bahwa kehidupan manusia itu terbagi menjadi tiga siklus yakni lahir, hidup dan juga kematian. Sedangkan pada lantai keduanya, digunakan untuk menyimpan tajak perunggu yang biasanya digunakan untuk mengolah lahan pertanian, berburu dan dijadikan bekal kubur. Tajak perunggu ini juga dilengkapi dengan perlengkapan lainnya seperti gerabah, manik-manik, kapak dan lainnya yang biasanya diguanakan untuk berburu.

Sedangkan di lantai ketiga digunakan untuk menyimpan berbagai perlengkapan dapur semisal piring, kerang, gerabah dan berbagai macam aksesoris semisal anting dan manik-manik yang menjadi kegemaran manusia purba di masa lampau, dengan mengunjungi Museum Manusia Purba ini Anda akan banyak mendapatkan pengetahuan yang mendalam khususnya mengenai manusia purba beserta dengan derivasinya (berupa kelengkapan hidupnya yang digunakan untuk menunjang kehidupan ketika itu).
Dengan hadirnya Museum Manusia Purba ini maka semakin lengkaplah objek kewisataan yang ada di Kabupaten Jembrana, Bali, ini sehingga bisa memperkaya pilihan pengunjung. Lantas soal kunjungannya sendiri, memang pada hari-hari biasanya bisa dikatakan bahwa museum ini termasuk jarang dikunjungi oleh kalangan wisatawan.

Museum Manusia Purba Gilimanuk berada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Pulau Dewata Bali – Indonesia.
Selamat Berkunjung!


GAMBAR SELENGKAPNYA




 

Pura Taman Ayun Kawasan Pura yang Sangat Luas

Taman Ayun merupakan salah satu obyek wisata budaya yang berlokasi di desa Mengwi, kabupaten Badung dan berjarak sekitar 19 km di sebelah utara kota Denpasar. Untuk mencapai taman ini bisa melintasi jalan raya Denpasar - Gilimanuk atau melewati jalur Abiansemal dan hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Taman Ayun merupakan sisa peninggalan bersejarah dari kerajaan Mengwi yang berbentuk taman peristirahatan atau taman rekreasi serta terdapat juga tempat untuk persembahyangan, pura Taman Ayun. Selain itu, terdapat juga Museum Manusia Yadnya yang letaknya bersebelahan di luar area Taman Ayun. Di museum ini dapat menyaksikan upacara kemanusiaan, mulai dari dalam kandungan hingga kematiannya.

Menurut sejarah, Taman Ayun dibangun oleh raja Mengwi, I Gusti Agung Ngurah Made Agung pada tahun 1634 yang dipergunakan untuk kalangan keluarga kerajaan Mengwi. Pada abad ke-17 kerajaan Mengwi adalah salah satu kerajaan di antara 8 kerajaan lain di Bali, yaitu Klungkung, Karangasem, Buleleng, Gianyar, Tabanan, Bangli, Jembrana, dan Badung. Namun dalam perkembangannya, kerajaan Mengwi ditaklukkan oleh kerajaan Badung. Pada masa itu taman ini sering digunakan sebagai tempat pertunjukkan kesenian dan
kebudayaan serta sering dipergunakan juga sebagai tempat menyabung ayam (tajen). Taman Ayun dengan penataan pertamanan tradisional Bali yang dikelilingi dengan sungai buatan, juga ditanami dengan berbagai jenis tanaman langka khas Bali. Taman Ayun juga merupakan satu kesatuan pura yang penataannya menyatu dengan lingkungan taman dan kolam di sekitarnya. Untuk mengunjungi Taman Ayun setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 3.000,-.

Taman ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian luar (Nista Mandala), bagian dalam (Madya Mandala), dan bagian inti (Utama Mandala). Pada bagian luar terdapat sungai buatan yang mengelilingi Taman Ayun dengan lebar sekitar lima meter. Untuk memasuki bagian dalam hanya tersedia satu jembatan yang di ujungnya terdapat candi bentar yang merupakan pintu gerbang utama Taman Ayun. Pada bagian dalam atau Madya Mandala adalah taman dengan rerumputan hijau dengan sebuah kolam yang dilengkapi air mancur serta patung yang mengelilinginya, juga terdapat bangunan 'Bale Pertunjukkan' yang dilengkapi panggung kecil berukuran 10 x 5 meter.
 
Selain itu, terdapat juga 'Bale Kulkul' yang berada pada bagian sebelah barat taman dengan ketinggian bangunannya sekitar 15 meter dan 'Bale Daja' yang berada di bagian sebelah timur taman. Kulkul merupakan genta raksasa setinggi satu meter yang terbuat dari kayu berbentuk lonjong, yang berfungsi untuk menyampaikan informasi secara tradisional. Bila menaiki bagian paling atas 'Bale Kulkul', setiap pengunjung dapat menyaksikan seluruh bagian Taman Ayun dengan pemandangan di sekitarnya. Sedangkan 'Bale Daja' bentuknya seperti bale bengong dengan ukuran lebih besar yang beratapkan ilalang dan terbuka dengan lantai yang terbuat dari bata. Bale ini berfungsi sebagai tempat untuk pertemuan atau tempat sekeha gong bilamana ada upacara di Taman Ayun. Pada bagian inti atau Utama Mandala yang berukuran sekitar 20 x 20 meter, setiap pengunjung tidak diperkenankan untuk memasuki area tersebut. Karena Utama Mandala merupakan tempat Padmasana Singgasana Sang Hyang Tri Murthi, yaitu tempat pemujaan yang saling berdampingan dengan sekitar 50 meru dan paibon. (Meru adalah tempat di mana setiap umat Hindu meletakkan sesajen atau banten ketika bersembahyang).

Pura Taman Ayun memiliki keunikan dibandingkan dengan pura lainnya di Bali. Karena beberapa meru di pura Taman Ayun adalah meru tumpang solas, yaitu meru dengan atap yang bertumpuk ke atas berjumlah 11. Meru jenis ini biasanya hanya berada di tempat sembahyang milik para bangsawan (puri), bukan untuk warga biasa. Beberapa meru yang lain bertumpang bukan 11 melainkan 9 atau 5. Pada setiap meru di pura



Taman Ayun dibuat untuk menghormati leluhur mereka, seperti Meru Ulun Siwi yang dibuat untuk menghormati Dewi Kesuburan. Meru ini berada dekat dengan tempat subak atau sistem pengairan sawah tradisional Bali. Sedangkan Meru Pasek Buduk untuk menghormati leluhur dari desa Buduk, yang telah berjuang membela kerajaan Mengwi dari serangan kerajaan Blambangan dari pulau Jawa. Meru-meru tersebut dikelilingi dengan kolam air yang berisi bunga teratai selebar 2 meter.

GAMBAR SELENGKAPNYA